Rabu, 02 Oktober 2013

Teruntuk diri mu

Assalamualaikum wr.wb

teruntuk diri mu,….
Tangan ini mau menulis sesuatu tentang apa yang ada di lubuk hati. Aku mulai tertanya-tanya apakah aku sudah seharusnya mulai mencari sebagian diriku yang hilang. Bukanlah niat ini disertai oleh keinginan sesaat tetapi atas keinginan  seorang muslim mencari sebagian agamanya. Sering kali aku mendengar bahwa ungkapan “Kau tercipta untukku.” Aku awalnya kurang mengerti apa sebenarnya arti kalimat itu. Rahmat dan hidayah Allah yang diberikan kepada diriku, aku mengerti bahwa pada suatu hari nanti aku harus mengambil satu tanggung jawab yang memang diciptakan khusus untuk diriku, yaitu dirimu. Aku mulai mempersiapkan diri dari segi fiskal, spiritual dan juga intelektual untuk bertemu denganmu.

Aku mau pertemuan kita yang pertama aku kelihatan ‘sempurna’ di hadapanmu meskipun pada hakekatnya masih banyak lagi kelemahan pada diriku ini. Aku mencoba mempelajari arti dan hakikat tanggung jawab yang harus aku wujudkan ketika dipertemukan dengan dirimu. Aku coba membatasi hubungan pembicaraan dengan wanita lain yang hanya dalam lingkaran urusan penting karena aku risau aku menceritakan rahasia diriku kepadanya karena seharusnya engkaulah yang harus mengetahuinya kerana dirimu adalah sebagian dari ku dan hak bagimu untuk mengetahui segala lahir dan batin diriku ini.

yang aku pinta  hanya mengharapkan keridhoan Allah. Yang aku takuti, diriku mulai didekati oleh wanita. Aku risau imanku akan lemah. Diriku tidak dapat menahan dari fitnah ini. Rasulullah S.A.W pernah bersabda, “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih bahaya untuk seorang lelaki melainkan wanita.” Setiap kali aku merasakannya, aku mengenangkan dirimu. Di sana engkau setia menunggu diriku, tetapi di sini aku curang kepadamu andai aku bermain dengan cinta fatamorgana. Sampaikan doamu kepada diriku agar aku dapat menahan gelora kejantananku disamping aku mengajukan sendiri doa diperlindungi diri.

Diri ku yang memiliki mu, Tidaklah semulia Muhammad, Tidaklah setaqwa Ibrahim, Pun tidak setabah Isa atau Ayub, Atau pun segagah Musa, Apalagi setampan Yusuf Justru diriku ini hanyalah pria akhir zaman, Yang punya cita-cita, membahagiakan mu dan Membangun keturunan yang soleh solehah…,dan Mengajar kita kewajiban bersama, Tidak perlu alis mata seakan alis mata unta, wajah bersih seakan putih telur ataupun bibir merah delima tetapi cukup cuma akidah sekuat akar, ibadah sebagai makanan dan akhlak seindah budi.

Dari diri ini yang mencintai mu karena Allah...

Add caption

Tidak ada komentar:

Posting Komentar